Home » , » Indonesia Gagal di Asian Games, Kemenpora Kembali Janji Perbaiki Pembinaan & Pendanaan

Indonesia Gagal di Asian Games, Kemenpora Kembali Janji Perbaiki Pembinaan & Pendanaan

Written By radiodairicirebon on Selasa, 07 Oktober 2014 | 00.09

Redaksi 876
sport.detik.com, Jakarta - Kegagalan Indonesia di SEA Games 2013 berulang di Asian Games 2014. Masih dihadapkan masalah yang sama soal pendanaan dan keterlambatan peralatan, Kemenpora kembali melontarkan janji untuk melakukan perbaikan di banyak hal.

Pada gelaran Asian Games yang berlangsung selama 16 hari, 19 September -4 Oktober 2014, Indonesia harus puas duduk di posisi 17 dengan raihan 4 medali emas, lima medali perak, dan 11 medali perunggu. Hasil ini meleset dari yang awalnya ditargetkan masuk 10 besar Asia dengan torehan sembilan medali emas.

Deputi V Bidang Keharmonisan dan Kemitraan Kemenpora, Gatot Dewa Broto, mengakui hasil kontingen Indonesia di Asian Games 2014 memang tidak sesuai harapan. 

"Tapi sekali lagi kami tidak ingin menyalahkan siapapun. Tanggung jawab tidak tercapainya target dan peringkat bukan pada KONI, KOI, Satlak Prima, bukan pada PB cabang olahraga, atlet, dan sebagainya. Tapi tanggung jawabnya ada di pemerintah. Kami tidak ingin saling menyalahkan siapa yang bertanggung jawab. Sangat tidak elok," kata Gatot.

Bukan kali ini saja pemerintah melalui Kemenpora mengklaim bertanggung jawab atas kegagalan atlet di multi event. Tahun lalu di Myanmar pada ajang SEA Games 2013, Kemenpora juga mengatakan hal yang sama setelah Indonesia dapat hasil buruk. 

"Karena yang kami pikirkan pertama adalah selanjutnya adalah event-event selanjutnya. Seperti SEA Games 2015, Olimpiade 2016, dan Asian Games 2018 tidak hanya sukses di penyelenggaraan tapi juga prestasi," lanjutnya. 
Adapun tanggung jawab yang akan dilakukan dalam bentuk evaluasi menyeluruh kepada semua pihak. Baik itu dari pembinaan di Satlak Prima, pembinanya, hingga kepada atletnya.

Staf Ahli Bidang Informasi dan Komunikasi Kemenpora, Amung Ma'Mun. mengatakan, harus ada terobosan yang bisa menjadi kunci kesuksesan atlet Indonesia untuk kedepannya.

"Tentu sebelumnya kami akan melakukan evaluasi yang menyeluruh. Baik itu di pelaksanaan pembinaan di Satlak Prima, pembinanya juga, hingga ke level atletnya. Kami coba standarisasi agar bisa sejajar dengan negara-negara maju," bebernya.

Contoh kongkretnya, lanjut dia, seperti cabang soft tenis. Ia melihat ada potensi di cabang tersebut pada saat Asian 

Games
 kemarin. “Edi Kusdaryanto itu meraih medali perak. Tahu enggak usianya berapa? 39 tahun. Ini artinya masih ada ruang untuk perbaikan bagi yang muda-muda,” katanya. 

Tak hanya soal sistem pembinaan, kedepan pihaknya akan mencoba menata ulang soal penganggaran supaya tidak ada lagi keterlambatan lagi soal dana jelang event besar internasional. 

"Ke depan perlu direview ulang soal penganggaran. Ini bukan berarti kami akan menabrak peraturan birokrasi yang ada. Kami tetap mengikuti peraturan. Hanya kalau ada terobosan yang tidak melanggar hukum kenapa tidak dicoba. Misalnya menggunakan high calling (mendatangi langsung pihak Kementerian Keuangan)," timpal Gatot.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : geber website devt
Copyright © 2013. DAIRI FM CIREBON - All Rights Reserved
Template Created by : MASKOLIS